Pemberdayaan Masyarakat Untuk Ketahanan Pangan Yang Lebih Baik

Jadi, essay inilah yang mengantarkan saya ke Parlemen Remaja 2016. Langsung saja, silakan disantap.
________________________________________________________

Timbulnya masalah ketahanan pangan di bumi Pertiwi adalah suatu ironi. Saya mengutip sebagian syair lagu dari  grup band kenamaan  Koes Plus yang saya dengar dari hand phone ayah saya, orang bilang, tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Mengapa negara sebesar, sekaya dan sesubur ini harus mengimpor sebagian bahan pangan dari luar negeri? Saya ingat ada tayangan televisi tentang kelangkaan produksi kedelai sehingga harus mengimpor ke Amerika, padahal tempe,tahu  dikenal sebagai makanan rakyat kecil. Ada  berita tentang impor garam di negara dengan dua pertiga luas wilayahnya terdiri dari lautan. Ada pula berita tentang impor daging sapi dari Australia.

 Pengertian ketahanan pangan tidak lepas dari UU No. 18 Tahun 2012 tentang pangan. Disebutkan bahwa ketahanan pangan merupakan “kondisi terpenuhinya suatu pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan”.

Lalu, berdasarkan pendapat Bustanul Arifin (2005), ketahanan pangan merupakan tantangan dan prioritas untuk mencapai kesejahteraan bangsa pada abad milenium ini. Jadi, secara garis besar, ketahanan pangan dapat diartikan sebagai cara-cara pemerintah maupun masyarakat dalam mengatasi  minimnya hasil pangan dan pertanian guna mencukupi kebutuhan negara dan meningkatkan kesejahteraan serta perekonomian bangsa. Dalam meningkatkan hasil pangan dibutuhkan usaha-usaha khusus dari berbagai pihak agar hasil pangan meningkat dan didapatkan hasil yang bermutu tinggi.

 Namun, yang perlu diingat, ketahanan pangan nasional tidak hanya dipengaruhi oleh hasil pangannya saja. Beberapa poin penting seperti laju penduduk, pengonversian lahan pertanian, dan pola pikir kritis masyarakat juga harus diperhatikan. Melonjaknya laju penduduk Indonesia juga memiliki pengaruh yang kuat dalam masalah ketahanan pangan ini. Apabila penduduk Indonesia terus meningkat drastis dari tahun ke tahun, kebutuhan pangan Indonesia juga akan meningkat secara signifikan dan membuat masalah ketahanan pangan tidak kunjung berakhir. Sebagai contoh, kita dapat melihatnya pada kasus-kasus kelaparan (malnutrisi) di Ethiopia, Afrika. Kasus-kasus kelaparan terjadi di Ethiopia dikarenakan persediaan bahan pangan yang tidak memadai. Kalau persediaannya sedikit, dan jumlah penduduknya banyak, tentu saja akan menimbulkan masalah: gizi buruk, penyakit, busung lapar. Tidak perlu jauh-jauh, di Indonesia saja kasus-kasus kelaparan sudah seringkali terjadi. Lalu, bagaimanakah solusinya? Apa kita hanya bisa berdiam diri menunggu?  Pemerintah mengeluarkan  kebijakan untuk mengatasi masalah ini, namun hasilnya belum maksimal

 Tentu saja tidak. Kita sebagai pelajar juga harus memikirkan bagaimana ketahanan pangan nasional dapat tercapai. Menurut saya, salah satu hal yang paling utama adalah meningkatkan produksi hasil pertanian dan sumber daya lokal khas masing-masing daerah. Selama ini, kita hanya terpaku dengan beras sebagai bahan pangan pokok sehari-hari. Kita seringkali tidak menyadari bahwa di samping beras, masih banyak makanan pokok lainnya yang dapat dijadikan alternatif. Kentang, ubi jalar, nasek empog, gandum, papeda (sagu), singkong, adalah contoh-contoh dari makanan pokok selain beras (padi). Adanya bahan pokok seperti itu bisa dimanfaatkan masyarakat di daerahnya masing-masing sebagai alternatif pengganti beras.

  Untuk meningkatkan produksi beras, pemerintah sebaiknya membuka lahan persawahan baru di daerah daerah, misalnya Papua. Menempatkan penyuluh pertanian handal di daerah tersebut, agar dapat meningkatkan wawasan para petani didaerah baru tersebut. Memberikan subsidi sehingga harga bibit dan pupuk terjangkau bagi petani.  Menggunakan COB sebagai acuan. COB adalah “come on, backing”!  agar para petani lebih semangat dan memperhatikan backing (penyokong, penunjang) dari pertumbuhan padi. Penunjang pertumbuhan padi antara lain cahaya matahari yang cukup, udara yang bersih, dan cuaca yang stabil. Penunjang tersebut sangat penting dan berpengaruh terhadap pertumbuhan padi, karena komponen-komponen itulah yang menentukan sukses atau tidaknya bibit muda-unggul yang ditanam.  Pemerintah harus melengkapi dengan irigasi yang baik sehingga padi yang ditanam mendapat cukup air.Untuk penduduk asli daerah Papua, biasanya lebih familiar dengan berkebun.   Untuk itu pemerintah juga harus menyiapkan bibit bibit yang bermutu bersubsidi.  

 Melakukan pemupukan secukupnya dan hindari penggunaan bahan-bahan kimia. Penggunaan bahan kimia dalam pertanian sangat tidak baik karena akan mengakibatkan terjadinya degradasi lahan. Untuk itu, daripada menggunakan bahan kimia, akan lebih baik bila petani menggunakan unsur organik agar tanah tidak sakit. Jika tanah sakit, beberapa hal seperti penurunan produksi dan mutu akan terjadi. Unsur oganik yang ditambahkan, misalnya pupuk kompos (jerami) dan sekam.

 Agar produktivitas pertanian berjalan dengan lancar, pemerintah harus memberdayakan masyarakat dan memberikan pendidikan seputar pertanian agar kelak masyarakat dapat mewujudkan ketahanan pangan dan berdiri sebagai masyarakat yang mandiri. Pada kenyataannya, para petani memang sudah memiliki dasar-dasar bertani yang diturunkan secara turun-temurun. Namun, seiring berjalannya waktu, dasar-dasar bertani yang sudah dimiliki para petani harus dikombinasikan dengan teknologi dan pengetahuan masa kini. Selanjutnya, pemerintah dan masyarakat harus mengoptimalkan dan menjaga lahan-lahan pertanian yang masih ada hingga saat ini. Setiap tahunnya, pemukiman warga memang semakin banyak dan membuat lahan pertanian kian berkurang. Dengan begitu, sudah menjadi kewajiban kita semua untuk menjaga lahan pertanian yang masih tersisa. Lalu, jika bisa bergantung pada sumber daya lokal, mengapa tidak? Jika kita bisa mengonsumsi kentang,atau keladi, mengapa tidak? Jika bisa mengonsumsi papeda, konsumsi saja papeda sebagai bahan pangan utama. Kurangi konsumsi beras agar impor Indonesia tidak bertambah. Lagipula, pada dasarnya mengonsumsi beras secara berlebihan kurang baik untuk kesehatan manusia terutama bagi yang usia dewasa.

 Pemerintah melalui kepala desa bisa mengadakan berbagai lomba, misal kolam ikan keluarga. Setiap keluarga yang memiliki cukup lahan, diberi bantuan dana untuk membuat kolam dan membeli benih ikan. Pada waktu yang sudah ditentukan, diadakan penilaian. Keluarga yang memiliki  kolam dengan hasil panen  terbaik, ditetapkan sebagai pemenang. Bagi keluarga yang lebih senang beternak ayam, kambing atau sapi, diberikan bantuan dalam pembuatan kandang serta bibit ayam, kambing  anakan sapi. Setiap keluarga harus merawat peliharaan mereka. Keluarga dengan hewan peliharaan yang sehat, ditetapkan sebagai juara.  Kepala desa menyiapkan sertifikat sebagai reward. Untuk meningkatkan kualitas hidup di perkotaan, Pemerintah melalui

RT/RW atau Lurah, memberikan reward bagi keluarga yang memiliki kebun keluarga. Bagi keluarga yang tidak memiliki cukup lahan, bisa menanam sayur,cabai,tomat dll di dalam pot atau pipa paralon.

 Dari semua penyampaian pendapat dan gagasan saya ini, saya mengambil kesimpulan bahwa dalam menjalankan ketahanan pangan diperlukan usaha bersama antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah harus memberdayakan masyarakat, dan masyarakat harus menjadi masyarakat yang mandiri yang ke depannya bisa menopang kesejahteraan regional masing-masing. Masyarakat juga harus berpikir kritis dan mulai sedari dini mengubah pola pikir tentang beras sebagai bahan pangan pokok.

 Saya juga mengimbau kepada pelajar-pelajar se-Nusantara untuk mencintai dunia pertanian dan ikut mengambil bagian dalam usaha ketahanan pangan nasional. Dan terkhusus lagi kepada pemerintah agar kiranya menyiapkan program-program pertanian yang baik dan menarik agar masyarakat dapat memproduksi hasil pertanian dalam jumlah banyak dan mutu yang tidak kalah dengan produk impor. [*]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s