Kue Jujur, Eh Cucur!

IMG_20170530_174738_233Holla! Konnichiwa menjelang Konbanwa! Hehe.

Apa kabarnya, temen-temen Senja Biru/? Haha, udah lama ga ketemu kita. *eh

Huh. Gimana ya mulainya. Akhir-akhir ini, sudah banyak kejadian yang terjadi begitu aja. Dibiarin ngalir sih iya, dibiarin berlalu sih iya juga, tapi bagaimana pun semuanya ga bakal lenyap immediately. Ga langsung ilang kaya roh yang barusan dicabut sama grim reaper. At this time, “let it flow and you will glow” it’s not effected. Jadi temen-temen, gue mau cerita tentang kejadian yang emang masih fresh from the oven, yaitu ujian kenaikan kelas (menuju kelas 11). Kalo ga salah postingan sebelumnya juga tentang ujian wkwk, berarti udah enam bulan berlalu ya ckckck.

Setiap pulang sekolah, habis dari angkot nih ya, gue selalu naik ke atas loteng. Duduk, mandangin langit, kadang suka termenung ga jelas. Emang rada lebay sih. Kesannya kaya sok iye banget. Tapi inilah gue, serius. Salah satu aktivitas yang sering gue lakuin ya ini. Berdiam diri selama 15 menit. Merenung, and then mengadu pada Tuhan. Aduh alay pasti ya hehe. Intinya begitu. Fyi, di bis sekolah aja gue kadang suka diem ga jelas mandangin jendela sama kendaraan yang lalu-lalang. Kebutuhan batin, I mean. In the other religion, they called meditation, but what I do is not totally called meditation. It only half meditation because gue ga merem :v

Ngomongin perasaan, perasaan gue ketika nulis tulisan ini mix banget. Gue sedih, kesel, gue kecewa, ngerasa terbebani dengan semuanya tapi seperti biasa gue selalu nulisnya rada comedy gaje. Ya gue cuma hidup apa adanya aja sih hehe. Gue emang bukan anak pintar yang bisa dapat nilai bagus di setiap ujian, gue juga bukan anak sosial yang punya banyak teman dan relasi. Apalagi hits -_- Gue juga bukan siswa yang bisa deketin guru. Ya gue anak yang biasa-biasa aja. Bukan orang kaya, bukan orang penting, atau orang yang disenangi banyak orang. Gue ali, gue senja biru.

Dan gue hari ini mau bahas masalah ujian semester yang udah 65% terlaksana. Sebelumnya, gue mau cerita dikit dulu (anggap aja prekuel). Jadi gue bersekolah di salah satu sekolah negeri terbaik di Kota Sorong. Sekolah ini dijuluki sekolah rujukan sih (dulunya dibilang sekolah model). “Katanya” banyak siswa-siswa pilihan yang bersekolah di sini, termasuk siswa kaya, pintar, dan berbagai macam latar belakang. Walau ga menutup kemungkinan ada juga siswa yang kurang mampu. Gue juga masuk di kelas yang bisa dibilang kelas unggulan, karena banyak siswa pintar yang berada di kelas ini. Jujur, gue tergolong anak yang udik banget masuk sekolah ini. Soalnya di SMP gue dulu ga ada anak orang kaya yang very very kaya, di SMP rata-rata kalangan menengah ke bawah. Ga ada yang terlalu istimewa banget. Tapi di SMA gue nemuin anak orang kaya yang banyak tekaliiii. Kadang jadi suka minder sendiri sih.

Awalnya gue amazed banget, kelas unggulan ini diisi anak-anak pintar dari berbagai sekolah menengah pertama. Suasana pas hari pertama itu dingin banget, kaku. Di sisi lain gue yang notabenenya berasal dari sekolah menengah pertama yang biasa-biasa aja, tentu harus bisa beradaptasi dengan semua ini. Dan ketika enam bulan pertama berlalu, alhamdulillah gue bisa dapetin rank 1. Ada yang bilang itu cuma keberuntungan, cuma hoki semata. Ya gapapa juga sih, hehe. Memang orang kayak gue mungkin ga pantas ada di ranking 1.

Sekarang, di semester 2 ini, mungkin roda udah waktunya berputar. Dalam pikiran gue, gue udah bisa ngepastiin gue bukan lagi yang pertama. Gue juga nyadar diri sih, akhir-akhir ini yang gue lakuin itu bukan belajar, paling main terus. Kalo bukan gaming, paling gue update ig terus bikin snapgram yang isinya lagu-lagu mulu :3 Belajarnya juga selalu ngebut, ga teratur. So, I thought this is the consequence atas apa yang gue perbuat selama ini.

Pada intinya sih gue ngerasa “baik-baik saja or very fine” kalo rank dan nilai gue menurun, asalkan orang yang menggantikan posisi gue memang orang yang tepat (di luar masalah snmptn dsb). Orang yang emang bener-bener pinter, dan juga dapetin nilai dengan cara yang halal. Di sini, gue bukan nge-judge atau seakan sok suci, sok bersih, sok apa. Gue hanya ga terbiasa dengan suasana kelas yang seperti ini. Ada apa sih sebenarnya? Gue lihat anak-anak yang “biasa-biasa saja” ngerjain ujian aja dengan jujur, lah kenapa anak yang kita tahu lumayan malah ngelakuin sly thing like that di saat ujian? Gue tahu sih. This is the world that fulfilled with yin and yang, white and black, pro and contra, and many more. So of course there’s person like that. But, this isn’t make sense! Gue ga tau kenapa, tapi gue sensitif banget dengan tingkat kejujuran seseorang. Segitunya kah meraih sesuatu sampe harus ngehalalin segala cara? Gue jadi inget penyelenggaraan pemilu yang ga jujur masa :V

Hm, mau gimana lagi ya. Atau mungkin gue yang terlalu bawa perasaan. Ntah.

Andai “sang pemberi” tahu semua kedok dan motifnya.

Yang gue percaya, Tuhan selalu tahu siapa orang yang tepat. Kalopun gue bukan yang pertama lagi di kelas, ya paling tidak Tuhan tahu yang sebenarnya. Toh gue ga ngejer dan ambisius banget sama ranking 1 sih, soalnya kakak sulung gue tuh selalu ngebilangin ranking itu bukan jaminan kesuksesan orang. Jadi ya dari situ gue ter-motivated. Ada juga kakak kelas gue, kak Nabilla, dia bukan rank 1 di angkatannya tapi gue malah ngidolain dia, hahaha, karena prestasinya yang wow aliiiig. Memang sih kalo ranking turun, pasti ada rasa kecewa. Manusiawi itu mah. Karena gue juga udah pertahanin rank 1 selama 15 semester berturut-turut sejak kelas 3 SD :’) Fyi, gue pas kelas 1 dan 2 SD bukan rank 1 (dulu dapet rank 4-5-3-3).

Di sini, gue kadang suka mempersepsikan gue itu Mirae, kemudian satunya Sua. Apaan si, ngayal tingkat mahadewa :p

To the point, Tuhan itu Maha Melihat. Tidak hanya ngelihat sesuatu yang bisa dilihat manusia dengan mata telanjang, tapi juga bisa ngelihat sampai ke isi hati kita. Tuhan Maha Tahu. Dia menyaksikannya dari atas langit:) Apalagi masalah kejujuran, udah pasti Dia Maha Mengetahui.

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607)

Sumber: https://muslim.or.id/21120-dosa-menyontek-saat-ujian.html

Sekarang kelas gue lagi ada masalah. Ya ga bakal gue bahas masalah itu sih. Gue gatau apa yang lain jadi ga suka sama gue hehe. No comment deh.

Hm penutupnya apa ya? Makan kue jujur aja yuk! Eh cucur! Tapi pas buka puasa :p Maafin curahan hati ga jelas ini. Kalo ga diungkapin, takutnya malah jadi memburuk. Setidaknya dengan menulis semua perasaan dan isi hati, gue bisa lebih lega. Aamiin. Yuk kita tegakkan kejujuran di dunia ini! ^^ *walau ga mungkin sih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s